Senin, 30 November 2015

akar



Bahagia yang kurasa saat mendapatkan amplop coklat dari pak pos. Namun perasaanku hancur saat melihat isi didalamnya. Ya undangan pernikahan In’am. Setelah aku terkatung-katung dengan harapan yang dia berikan selama lima tahun . Akhirnya harapan itu tak sesuai apa yang ada dalam fikiranku. Batinku yang sakit membuat seonggok badan ini roboh. Bola mata memutar seluruh isi kamarku – kepalaku pusing.
***
Langkahku terus menyusuri gang-gang sempit diantara meja-meja. Aku kembali memasuki kantor guru SMA ku. Gelap, sunyi, dan tak ada satupun orang – aku mencoba mencari satu titik cahaya. Aku terus berjalan mereka-reka pandangan, langkahku terhenti saat mataku melihat ada cahaya dilorong pintu keluar. Aku terus berlari mencari pusat cahaya itu, ya ternyata cahaya itu berasal dari lampu putih didalam lemari kaca kecil yang berkilau untuk miniatur ayunan yang cantik.
“aku mengenal kelas ini, sudah lama aku tak berada disini”. Aku berbicara sendiri didalam kelas. Kembang kempis dadaku, menangis merindukan semua yang ada didalam kelas ini. Melihat bangku yang berada diujung belakang, dengan dua kursi yang biasa aku belajar bersama In’am. Dikursi itu pula aku menulis surat izin untuk In’am yang lagi bolos sekolah, mengerjakan tugas In’am saat ia sibuk persiapan untuk balapan motor liar, menuliskan Yasin beserta terjemahannya untuk In’am yang dihukum guru agama, dan dikursi itu pula aku sering menangis karena In’am yang tak kunjung mendapat kepastian.  “Stop! Aku ingin lupakan semua ini”. Aku berteriak dengan kencang berharap kenangan masa lalu tak terus memainkan anganku. Aku mencoba berlari menuju pintu keluar tapi anehnya saat aku memebalikkan badan, kakiku terkunci.
“Nida, tidakkah kau lihat aku begitu cantiknya berada dilemari ini?”. Suara yang begitu lembut merayap menyentuh gendang telingaku. Ku bawa mataku menyusuri suara lembut itu berasal?. Aku terkaget ternyata miniatur cantik itu yang menghentikanku. Saat melihatnya aku jadi teringat, itu kan miniatur ayunan cantik hasil karyaku bersama teman-teman sekelompokku, yang ku beri nama Nurul Qolbi.
“Aku sudah melihat Nurul tapi aku tak mampu berada disini lama. Hatiku seolah teriris kesakitan dengan mengenang saat-saat aku berada disini”.
“Aku berada disini berkatmu Nida. Tidakkah kau merindukan karyamu ini. Hadapi sakit hatimu itu Nida, semakin sakit dirasakan maka kau akan semakin kuat. Jangan lari dari kenangan masalalu, sekalipun itu menyakitkan, cobalah berdamai dengan kenangan masalalumu”.
“Hidup itu tak semudah teori. Bahkan kamu tak pernah merasakan betapa sakitnya tidak dianggap”.
“Jangan salah Nida, aku jauh lebih dulu merasakan sakit. Aku hadir didunia ini jauh lebih dulu dari kamu. Saat kamu mengambilku, usiaku sudah sangat tua. Aku tak tahu begaimana awalnya aku bisa hadir didunia ini. Tapi yang aku tahu, aku terlahir sebagai akar yang berada didalam tanah. Aku tak melihat seperti apa indahnya dunia ini. Bahkan manusia tak pernah menyadari adanya aku. Saat aku berada didalam tanah, cabang akarku terus menjalar tanpa tahu apa yang ia terjang. Saat batu yang ia terjang, seluruh badanku serasa koyak. Sampai halilintar yang dahsyat kala itu menyerang saudaraku – batang pohon, terpantinglah kami hingga membuatku terangkat menerobos tanah. Rasa nyilu yang menggeret diriku serasa terkalahkan saat diriku mampu melihat dunia. Kamu tahu? Untuk melihat dunia saja aku harus tersambar petir dulu. Aku memiliki tiga saudara yang bernasab pada simbah jati, ada aku, batang, dan pucuk pohon. Warga sekolahmu memisahkan kami, batang dan pucuk pohon dibawa kedalam truk mewah nan indah. Aku menangis, kenapa hanya aku yang dibiarkan berada didekat bak sampah. Berbulan-bulan aku berharap ada yang menganggapku dan meraihku. Siswa-siswa disini hanya menginjakku dan mendudukiku. Hujan, panas, dan angin yang menusuk ragaku  menjadi tambahan penderitaanku. Sampai akhirnya kamu memilihku untuk dibuat sarana mendapatkan nilai praktik kesenian. Awalnya aku senang, tapi saat Andriano menggeraji diriku dan mengukir kulitku dengan mesin yang menyayat bersama suara yang menggelegar, ingin rasanya aku kembali ke dalam tanah saja. Aku terus meminta dan berteriak, ‘HENTIKAN!’. Lebih lagi saat paku-paku di tancapkan untuk menggabungkan diri ini kembali setelah dipotong-potong dengan kapak, aku menjerit kesakitan. Tapi apa daya aku, tak ada yang mendengarkanku. Terlebih lagi saat aku disemprot dengan minyak warna dan minyak pengkilap, baunya benar-benar menyebalkan. Kamu tahukan betapa sakitnya ketika diri kita disayat tanpa konfirmasi. Itulah perjalanan masalaluku Nida. Kita diuji agar kita lebih berkualitas dan memperoleh kecantikan yang sebenarnya. Siapa yang duga aku yang hanya seonggok akar yang dulunya tidak terlihat, tak dianggap, dan tidak didengarkan. Sekarang menjadi miniatur cantik yang dipuji banyak orang. Untuk dapat mengarungi cinta yang indah nan suci, kita harus menghadapi gelombang ujian yang datang silih berganti. Cinta memang ujian, tapi juga mampu menjadi obat penguat kehidupan. Terimakasih Nida telah memilihku kala itu. Aku yang tak didengar bisa mendapatkan uluran kasih sayang, yang tak lain adalah kamu dan sekelompokmu, apalagi kamu yang bisa didengar siapapun. Kamu harus lewati semua ini, kita punya Alloh yang maha mendengar.
***
Air mataku terus mengalir dalam pejamku, aku perlahan membuka mataku saat mendengar bundaku menangis. Beliau paham sekali kisah cintaku di putih abu-abu. Aku berusaha untuk duduk dan menghapuskan air matanya sembari berkata, “Nida akan balik ke Jogja bunda, meneruskan di Pascasarjana UGM. Jangan khawatirkan Nida, jodoh Nida pasti bisa menemukan Nida dalam istikhorohnya. Kan Nida punya Alloh”.