Bahagia yang kurasa saat mendapatkan amplop coklat dari pak pos. Namun
perasaanku hancur saat melihat isi didalamnya. Ya undangan pernikahan In’am.
Setelah aku terkatung-katung dengan harapan yang dia berikan selama lima tahun
. Akhirnya harapan itu tak sesuai apa yang ada dalam fikiranku. Batinku yang
sakit membuat seonggok badan ini roboh. Bola mata memutar seluruh isi kamarku –
kepalaku pusing.
***
Langkahku terus menyusuri gang-gang sempit diantara meja-meja. Aku
kembali memasuki kantor guru SMA ku. Gelap, sunyi, dan tak ada satupun orang –
aku mencoba mencari satu titik cahaya. Aku terus berjalan mereka-reka
pandangan, langkahku terhenti saat mataku melihat ada cahaya dilorong pintu
keluar. Aku terus berlari mencari pusat cahaya itu, ya ternyata cahaya itu
berasal dari lampu putih didalam lemari kaca kecil yang berkilau untuk miniatur
ayunan yang cantik.
“aku mengenal kelas ini, sudah lama aku tak berada disini”. Aku
berbicara sendiri didalam kelas. Kembang kempis dadaku, menangis merindukan
semua yang ada didalam kelas ini. Melihat bangku yang berada diujung belakang,
dengan dua kursi yang biasa aku belajar bersama In’am. Dikursi itu pula aku
menulis surat izin untuk In’am yang lagi bolos sekolah, mengerjakan tugas In’am
saat ia sibuk persiapan untuk balapan motor liar, menuliskan Yasin beserta
terjemahannya untuk In’am yang dihukum guru agama, dan dikursi itu pula aku
sering menangis karena In’am yang tak kunjung mendapat kepastian. “Stop! Aku ingin lupakan semua ini”. Aku
berteriak dengan kencang berharap kenangan masa lalu tak terus memainkan
anganku. Aku mencoba berlari menuju pintu keluar tapi anehnya saat aku
memebalikkan badan, kakiku terkunci.
“Nida, tidakkah kau lihat aku begitu cantiknya berada dilemari
ini?”. Suara yang begitu lembut merayap menyentuh gendang telingaku. Ku bawa
mataku menyusuri suara lembut itu berasal?. Aku terkaget ternyata miniatur
cantik itu yang menghentikanku. Saat melihatnya aku jadi teringat, itu kan
miniatur ayunan cantik hasil karyaku bersama teman-teman sekelompokku, yang ku
beri nama Nurul Qolbi.
“Aku sudah melihat Nurul tapi aku tak mampu berada disini lama.
Hatiku seolah teriris kesakitan dengan mengenang saat-saat aku berada disini”.
“Aku berada disini berkatmu Nida. Tidakkah kau merindukan karyamu
ini. Hadapi sakit hatimu itu Nida, semakin sakit dirasakan maka kau akan
semakin kuat. Jangan lari dari kenangan masalalu, sekalipun itu menyakitkan,
cobalah berdamai dengan kenangan masalalumu”.
“Hidup itu tak semudah teori. Bahkan kamu tak pernah merasakan betapa
sakitnya tidak dianggap”.
“Jangan salah Nida, aku jauh lebih dulu merasakan sakit. Aku hadir
didunia ini jauh lebih dulu dari kamu. Saat kamu mengambilku, usiaku sudah
sangat tua. Aku tak tahu begaimana awalnya aku bisa hadir didunia ini. Tapi
yang aku tahu, aku terlahir sebagai akar yang berada didalam tanah. Aku tak
melihat seperti apa indahnya dunia ini. Bahkan manusia tak pernah menyadari
adanya aku. Saat aku berada didalam tanah, cabang akarku terus menjalar tanpa
tahu apa yang ia terjang. Saat batu yang ia terjang, seluruh badanku serasa
koyak. Sampai halilintar yang dahsyat kala itu menyerang saudaraku – batang
pohon, terpantinglah kami hingga membuatku terangkat menerobos tanah. Rasa
nyilu yang menggeret diriku serasa terkalahkan saat diriku mampu melihat dunia.
Kamu tahu? Untuk melihat dunia saja aku harus tersambar petir dulu. Aku
memiliki tiga saudara yang bernasab pada simbah jati, ada aku, batang, dan
pucuk pohon. Warga sekolahmu memisahkan kami, batang dan pucuk pohon dibawa
kedalam truk mewah nan indah. Aku menangis, kenapa hanya aku yang dibiarkan
berada didekat bak sampah. Berbulan-bulan aku berharap ada yang menganggapku
dan meraihku. Siswa-siswa disini hanya menginjakku dan mendudukiku. Hujan,
panas, dan angin yang menusuk ragaku menjadi tambahan penderitaanku. Sampai
akhirnya kamu memilihku untuk dibuat sarana mendapatkan nilai praktik kesenian.
Awalnya aku senang, tapi saat Andriano menggeraji diriku dan mengukir kulitku dengan
mesin yang menyayat bersama suara yang menggelegar, ingin rasanya aku kembali
ke dalam tanah saja. Aku terus meminta dan berteriak, ‘HENTIKAN!’. Lebih lagi
saat paku-paku di tancapkan untuk menggabungkan diri ini kembali setelah
dipotong-potong dengan kapak, aku menjerit kesakitan. Tapi apa daya aku, tak ada
yang mendengarkanku. Terlebih lagi saat aku disemprot dengan minyak warna dan
minyak pengkilap, baunya benar-benar menyebalkan. Kamu tahukan betapa sakitnya
ketika diri kita disayat tanpa konfirmasi. Itulah perjalanan masalaluku Nida.
Kita diuji agar kita lebih berkualitas dan memperoleh kecantikan yang
sebenarnya. Siapa yang duga aku yang hanya seonggok akar yang dulunya tidak
terlihat, tak dianggap, dan tidak didengarkan. Sekarang menjadi miniatur cantik
yang dipuji banyak orang. Untuk dapat mengarungi cinta yang indah nan suci,
kita harus menghadapi gelombang ujian yang datang silih berganti. Cinta memang
ujian, tapi juga mampu menjadi obat penguat kehidupan. Terimakasih Nida telah
memilihku kala itu. Aku yang tak didengar bisa mendapatkan uluran kasih sayang,
yang tak lain adalah kamu dan sekelompokmu, apalagi kamu yang bisa didengar
siapapun. Kamu harus lewati semua ini, kita punya Alloh yang maha mendengar.
***
Air mataku terus mengalir dalam pejamku, aku perlahan membuka
mataku saat mendengar bundaku menangis. Beliau paham sekali kisah cintaku di
putih abu-abu. Aku berusaha untuk duduk dan menghapuskan air matanya sembari
berkata, “Nida akan balik ke Jogja bunda, meneruskan di Pascasarjana UGM.
Jangan khawatirkan Nida, jodoh Nida pasti bisa menemukan Nida dalam
istikhorohnya. Kan Nida punya Alloh”.